Senin, 20 September 2010

Jurnal Kuliah VIII (17 September 2010)


Topik : Epistemologi Positivisme dan Intuisionisme

Substansi :
Dalam kajian Epistemologi juga terdapat aliran berpikir positivisme dan Intuisionisme.

Positivisme

Auguste Comte (1798-1857) seorang ilmuwan Perancis yang dijuluki sebagai "bapak sosiologi” dan Father of Positivism dikenal sebagai orang pertama yang mengaplikasikan metode ilmiah dalam ilmu sosial. Ia meneliti tentang filosofi positivisme dan mempublikasikan dalam bukunya yang berjudul Le Cours de Philosophie Positivistic. Comte melihat satu hukum universal dalam semua ilmu pengetahuan yang kemudian ia sebut sebagai 'hukum tiga fase'. Menurutnya, masyarakat berkembang melalui tiga fase: Teologi, Metafisika, dan tahap positif (atau sering juga disebut "tahap ilmiah"). 

Tahap teologis (bersifat fiktif) identik dengan kekuatan supranatural, fetisisme, animisme, politeisme, monoteisme, agama, Tuhan, dan sebagainya. Tahap metafisik (bersifat abtrak) yaitu ketika manusia mencoba melakukan abstraksi dengan kekuatan akal budinya. Tahap positivisme (bersifat riil) yaitu ketika masyarakat mempercayai pengetahuan ilmiah lewat observasi dan pengujian dengan metode empirik. Positivisme sendiri adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris. Sesungguhnya aliran ini menolak adanya spekulasi teoritis sebagai suatu sarana untuk memperoleh pengetahuan. Dalam perkembangannya, positivisme mengalami perombakan dibeberapa sisi, hingga munculah aliran pemikiran yang bernama Positivisme Logis yang tentunya di pelopori oleh tokoh-tokoh yang berasal dari Lingkaran Wina.

Positivisme logis adalah aliran pemikiran dalam filsafat yang membatasi pikirannya pada segala hal yang dapat dibuktikan dengan pengamatan atau pada analisis definisi dan relasi antara istilah-istilah. Fungsi analisis ini mengurangi metafisika dan meneliti struktur logis pengetahuan ilmiah. Tujuan dari pembahasan ini adalah menentukan isi konsep-konsep dan pernyataan-pernyataan ilmiah yang dapat diverifikasi secara empiris. Tujuan akhir dari penelitian yang dilakukan pada positivisme logis ini adalah untuk mengorganisasikan kembali pengetahuan ilmiah di dalam suatu sistem yang dikenal dengan ”kesatuan ilmu” yang juga akan menghilangkan perbedaan-perbedaan antara ilmu-ilmu yang terpisah. Positivisme berusaha menjelaskan pengetahuan ilmiah berkenaan dengan tiga komponen yaitu bahasa teoritis, bahasa observasional dan kaidah-kaidah korespondensi yang mengakaitkan keduanya. Tekanan positivistik menggarisbawahi penegasannya bahwa hanya bahasa observasional yang menyatakan informasi faktual, sementara pernyataan-pernyataan dalam bahasa teoritis tidak mempunyai arti faktual sampai pernyataan-pernyataan itu diterjemahkan ke dalam bahasa observasional dengan kaidah-kaidah korespondensi.
 
Lima asumsi dasar Postivisme antara lain:
1. Logiko empirisme, berkaitan dengan teori korespondensi (dinyatakan benar sepanjang sesuai kenyataan).
2. Realitas objektif (hanya terdapat satu realitas saja, subyek-obyek terpisah sehingga tidak ada tempat untuk melakukan interpretasi subyektif).
3. Reduksionisme (Setiap obyek dapat diamati dalam satuan kecil, jika tidak maka tidak dapat dikatakan sebagai realitas).
4. Determinisme (berkaitan dengan keteraturan dunia karena adanya hukum kausalitas, sudah ditentukan sehingga tidak ada kehendak bebas, dipengaruhi law of nature)
5. Asumsi bebas nilai (Suatu ilmu selalu bebas nilai, tak ada tempat bagi subyektifitas, sehingga nilai-nilai tidak relevan). Pengamat harus bebas dari kepentingan, nilai, emosi dalam mengamati objeknya agar diperoleh pengetahuan yang objektif

Jurnal Kuliah VII (15 September 2010)


Topik: Rasionalisme dan Empirisme
 
Substansi :
• Cabang Epistemologi 
   Rasionalisme
      Rene Descartes
          • Sumber pengetahuan adalah akal budi
          • Filosofi “I think therefore I exist.”
          • 3 persyaratan keyakinan

   Empirisme 
   (Bersumber dari pengalaman)
      John Locke
         • Pengetahuan berasal dari pengalaman (tabula rasa)
         • Rasio mengubah pengalaman menjadi ide kompleks
         • Kualitas primer berperan besar (objektif)
 
      George Berkeley
         • Tidak ada kualitas primer tetapi hanya sekunder (subyektif)
         • Yang diingat dari pengalaman adalah persepsi emosi individu
 
       David Hume
         • Membedakan kesan dan gagasan dari pengalaman

Refleksi :
Rasio menjadi pusat paham rasionalisme. Diawali dengan keraguan, rasionalisme selalu mencari keyakinan tetang suatu jawaban. Rene Descartes mengungkapkan seperti apakah keyakinan dengan sifatnya yang harus jelas, terakhir dan eksis. Dengan mengutamakan rasio, rasionalisme ingin menilai bahwa segala sesuatu harus dinilai berdasarkan rasio. Walau tidak bisa disalahkan, pandangan ini tidak akan bisa dipergunakan selamanya, karena pada kehidupan tidak pernah terlepas dari emosi dan sifat individu.  

Masing-masing dari faktor tersebut akan berkontribusi pada pemikiran seseorang sehingga mencapai pengertian yang berbeda atas suatu hal. Tidak selamanya rasio bisa dipersamakan antara setiap orangnya. Perbedaan pendidikan dan faktor lainnya masih banyak harus diperhitungkan.

Sebaliknya empirisme mengutamakan pengalaman sebagai sumber dari ide. Paham ini mensyaratkan seseorang mengalami sesuatu untuk mendapatkan persepsi. Tidak ada ide tanpa pengalaman.

Kaedah pengalaman sebagai awal dari ide adalah pemikiran yang menarik. Menurut para filsuf suatu pengalaman akan merefleksikan dua sudut pandang, yaitu secara obyektif sebagai pengalaman sendiri dan secara subyektif sebagai bagaimana individu merespon terhadap pengalaman. Dari keduanya ide akan muncul dan terekam pada pikiran manusia.

Akan tetapi tidak selamanya pengalaman harus menjadi dasar suatu ide. Karena beberapa ide justru lahir dari imaginasi belaka yang belum ada sebelumnya. Contohnya seperti Rene Descartes dari paham rasionalisme yang mempertanyakan “bagaimana bila kepalanya terlepas dari badan? Apakah ia masih akan hidup?” Tentunya pertanyaan ini tidak didasarkan pada pengalaman namun imaginasi dan baying-bayang seorang manusia. Dengan menggunakan rasio, pertanyaan tersebut bisa diolah menjadi kompleks dengan hasil yang menarik. 

Diskusi
  • Apakah ukuran "rasio" dalam paham rasionalisme dinilai sama antara satu manusia dengan yang lainnya? Bahwa seharusnya tidak terdapat perbedaan antara hasil rasio semua individu?
  • Apakah pengalaman yang diperoleh dari orang lain / pihak lain dapat diklasifikasikan sebagai pengalaman dalam paham "empirisme"? 

JURNAL KULIAH VI (3 September 2010)

Topik: metafisika: materialisme

Substansi:

Suatu realitas ada karena adanya materi dan bersifat abadi sebagai realitas
Contoh tokoh yang terkenal adalah:
  • Demokritos
Sesuatu yang ada hanya lahir dari materi. Materi terkecil adalah atom yang saling berbenturan satu sama lain dalam ruang kosong dan dinamis. Aliran ini dinamakan "atomisme" Pendapat dari Demokritos ini kemudian didukung oleh Thomas Hobbes (mekanisme) dan Isaac Newton (determinisme)

Ternyata materi terkecil bukanlah atom melainkan "quarks"

Aliran materialisme ini juga sering disamakan dengan "clockwork universe" yaitu bahwa alam semesta saling mengikat satu sama lain seperti halnya gerigi pada jam sehingga kalau satu bergerak maka yang lain juga ikut bergerak.

Tokoh lain yang juga menganut materialisme dan cukup terkenal adalah Karl Marx diaman dia mengatakan bahwa sejarah digerakkan oleh dialektika materi, perubahan ide karena perubahan materi. Dalam sejarah ide selalu ada karena adanya materi.

Masih ada beberapa tokoh aliran dari materialisme diantaranya adalah Charles Darwin, Ludwig Feuerbach, Sigmund Freud, dan Nietzsche. Feuerbach sendiri merupakan tokoh yang terkenal karena mengkritik teologi Kristiani. Menurutnya figur Tuhan merupakan ciptaan dari manusia sendiri. Ketika berbicara tentang Tuhan sebenarnya manusia berbicara tentang dirinya sendiri tapi kemudian hal ini dirusak oleh agama formal-monoetis karena menarik demarkasi (garis batas) antara manusia dan tuhan (menegatifkan manusia dan mempositifkan tuhan) 


Topik: metafisika: idealisme

Substansi:

Aliran idealisme mengatakan bahwa realitas ada karena diawali dengan adanya gagasan (ide). Ide itulah yang abadi sebagai realitas

JURNAL KULIAH V (1 September 2010)

Topik: Pembagian Ilmu-Ilmu

Substansi :

Ilmu secara garis besarnya terbagi menjadi Ilmu Teoritis dan Ilmu Praktis. Ilmu Teoritis bertujuan untuk menambah pengetahuan, sedangkan Ilmu Praktis bertujuan untuk menyelesaikan suatu problema yang konkret terjadi, seperti Ilmu Kedokteran, Ilmu Teknik, ataupun Ilmu Hukum.
Ilmu Teoritis sendiri dapat dibedakan menjadi Ilmu Formal dan Ilmu Empiris. Ilmu Formal menyelidiki mengenai sistem penalaran dan sistem perhitungan. Pengetahuan yang dihasilkan dari Ilmu Formal bersifat Apriori, artinya sudah diketahui sebelum dialami. Contoh Ilmu Formal adalah Logika dan Matematika. Di lain pihak, Ilmu Empiris menyelediki mengenai gejala faktual. Pengetahuan yang dihasilkan dari Ilmu Empiris bersifat Aposteriori, artinya baru dapat diketahui setelah mengalami. Contoh Ilmu Empiris adalah Ilmu-ilmu Alam dan Ilmu Kemanusiaan. Ilmu Alam mempelajari gejala faktual berupa realitas fisik alam semesta. Contoh dari Ilmu Alam adalah Biologi, Fisika, dan Kimia. Ilmua Kemanusiaan mempelajari gejala faktual manusia secara keseluruhan.. Contoh ilmu ini adalah Ilmu Sosial, Ilmu Sejarah, dan Ilmu Bahasa.

Pada Pohon Disiplin Hukum modern, dibedakan menjadi Filsafat Hukum, Teori Hukum, dan Ilmu Hukum. Filsafat Hukum membahas mengenai Ontologi Hukum (hakekat hukum, hubungan hukum dan moral), Epistemologi Hukum (pola penalaran hukum), serta Aksiologi Hukum (nilai-nilai dalam hukum). Teori Hukum memberikan penjelasan tentang bahan hukum dan kegiatan yuridis dalam realitas masyarakat. Ilmu Hukum mempelajari makna objektif dari dogmatik hukum (norma positif).

Minggu, 19 September 2010

Jurnal Kuliah IV (27 Agustus 2010)

Topik:

Sejarah Filsafat Hukum

Substansi:

1. Abad 4 SM
  • Filsafat hukum di mulai di Yunani sebagai pemikiran sampingan dari filsafat yang dilakukan oleh para kelas menengah.
  • Yang menjadi persoalan adalah otoritas dan hukum
2. Abad 1-4 M

  • Hukum ditentukan oleh Romawi yang bertujuan menciptakan Roman Legal Science melalui penaklukan. Hukum berdasar agama mulai muncul.

3. Abad ke 11 sampai 12
  • Para guru mulai didatangkan untuk mengajarkan ilmu hukum. Salah satu yang mencolok adalah Inernius yang mengajarkan cara berpikir yuridis.

4. Abad ke 18
  • Revolusi Prancis terjadi, Napoleon Bonaparte kemudian menciptakan Code Civil
  • Hukum Romawi dilarang diajarkan, Legisme berkembang dan ilmu hukum menjadi dogmatis