Topik: Rasionalisme dan Empirisme
Substansi :
• Cabang Epistemologi
Rasionalisme
Rene Descartes
• Sumber pengetahuan adalah akal budi
• Filosofi “I think therefore I exist.”
• 3 persyaratan keyakinan
Rene Descartes
• Sumber pengetahuan adalah akal budi
• Filosofi “I think therefore I exist.”
• 3 persyaratan keyakinan
Empirisme
(Bersumber dari pengalaman)
John Locke
• Pengetahuan berasal dari pengalaman (tabula rasa)
• Rasio mengubah pengalaman menjadi ide kompleks
• Kualitas primer berperan besar (objektif)
(Bersumber dari pengalaman)
John Locke
• Pengetahuan berasal dari pengalaman (tabula rasa)
• Rasio mengubah pengalaman menjadi ide kompleks
• Kualitas primer berperan besar (objektif)
George Berkeley
• Tidak ada kualitas primer tetapi hanya sekunder (subyektif)
• Yang diingat dari pengalaman adalah persepsi emosi individu
David Hume
• Membedakan kesan dan gagasan dari pengalaman
Refleksi :
Rasio menjadi pusat paham rasionalisme. Diawali dengan keraguan, rasionalisme selalu mencari keyakinan tetang suatu jawaban. Rene Descartes mengungkapkan seperti apakah keyakinan dengan sifatnya yang harus jelas, terakhir dan eksis. Dengan mengutamakan rasio, rasionalisme ingin menilai bahwa segala sesuatu harus dinilai berdasarkan rasio. Walau tidak bisa disalahkan, pandangan ini tidak akan bisa dipergunakan selamanya, karena pada kehidupan tidak pernah terlepas dari emosi dan sifat individu.
Masing-masing dari faktor tersebut akan berkontribusi pada pemikiran seseorang sehingga mencapai pengertian yang berbeda atas suatu hal. Tidak selamanya rasio bisa dipersamakan antara setiap orangnya. Perbedaan pendidikan dan faktor lainnya masih banyak harus diperhitungkan.
Masing-masing dari faktor tersebut akan berkontribusi pada pemikiran seseorang sehingga mencapai pengertian yang berbeda atas suatu hal. Tidak selamanya rasio bisa dipersamakan antara setiap orangnya. Perbedaan pendidikan dan faktor lainnya masih banyak harus diperhitungkan.
Sebaliknya empirisme mengutamakan pengalaman sebagai sumber dari ide. Paham ini mensyaratkan seseorang mengalami sesuatu untuk mendapatkan persepsi. Tidak ada ide tanpa pengalaman.
Kaedah pengalaman sebagai awal dari ide adalah pemikiran yang menarik. Menurut para filsuf suatu pengalaman akan merefleksikan dua sudut pandang, yaitu secara obyektif sebagai pengalaman sendiri dan secara subyektif sebagai bagaimana individu merespon terhadap pengalaman. Dari keduanya ide akan muncul dan terekam pada pikiran manusia.
Akan tetapi tidak selamanya pengalaman harus menjadi dasar suatu ide. Karena beberapa ide justru lahir dari imaginasi belaka yang belum ada sebelumnya. Contohnya seperti Rene Descartes dari paham rasionalisme yang mempertanyakan “bagaimana bila kepalanya terlepas dari badan? Apakah ia masih akan hidup?” Tentunya pertanyaan ini tidak didasarkan pada pengalaman namun imaginasi dan baying-bayang seorang manusia. Dengan menggunakan rasio, pertanyaan tersebut bisa diolah menjadi kompleks dengan hasil yang menarik.
Diskusi
- Apakah ukuran "rasio" dalam paham rasionalisme dinilai sama antara satu manusia dengan yang lainnya? Bahwa seharusnya tidak terdapat perbedaan antara hasil rasio semua individu?
- Apakah pengalaman yang diperoleh dari orang lain / pihak lain dapat diklasifikasikan sebagai pengalaman dalam paham "empirisme"?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar