Rabu, 15 September 2010

Jurnal Kuliah I (18 Agustus 2010)

Topik :  Pengantar Filsafat (part. 1)

Substansi:
1.  Pengertian Filsafat
     + Kata Filsafat dalam berbagai Bahasa di dunia:
         - bahasa Arab: Falsafah             - bahasa Belanda: Philosophie
         - bahasa Inggris: Philosophy     - bahasa Latin: Philosophia

     + Secara etimologi dalam Bahasa Latin, kata Philosophia berasal dari kata:
         - philein = mencintai     - philos = teman
         - sophos = bijaksana     - sophia = kebijksanaan

      + Istilah Philosophos pertama kali digunakan oleh Phytagoras, yang berarti
          The lover of  wisdom

      + Kata Filsafat memiliki perbedaan makna dengan kata Falsafah. 
          Kata Filsafat menunjuk pada suatu objek yang masih mengalami proses
          pengembangan (sifatnya genetivus subjektivus),
          sedangkan kata Falsafah menunjuk pada suatu produk akhir yakni
          suatu cara pandang/ideologi (sifatnya genetivus subjectivus)


2.  Kelahiran Filsafat
      Filsafat sendiri lahir dari suatu pertanyaan yang diajukan seorang filsuf
      bernama Thales (624-547 SM), yaitu: "darimanakah asal segala realitas?"  
      (dikenal juga sebagai pertanyaan tentang Arkhe)

      Pertanyaan tentang Arkhe ini lah yang kemudian menimbulkan pemikiran-
      pemikiran Filsafat dari berbagai filsuf.


3.  Filsuf-Filsuf Terkemuka
      + Thales (624-547 SM )
          Thales dianggap sebagai filsuf pertama karena ia lah yang pertama kali
          mengajukan pertanyaan Filsafat yaitu pertanyaan tentang Arkhe.
          Atas pertanyaan tentang Arkhe ia menjawab bahwa asal segala realitas
          adalah air

       + Pythagoras (572-497 SM)
           Atas pertanyaan tentang Arkhe ia menjawab bahwa asal segala realitas
           adalah bilangan

      + Herakleitos (535 -475 SM)
          Atas pertanyaan tentang Arkhe ia menjawab bahwa asal segala relitas
          adalah ada yang terus berubah

       + Parmenides
           Atas pertanyaan tentang Arkhe ia menjawab bahwa asal segala realitas
           adalah ada yang tetap

       +  Socrates
           Socrates mengalihkan pertanyaan  Filsafat yang semula berpusat pada 
           makrokosmos menjadi Filsafat yang berpusat pada mikrokosmos 
           (kemanusiaan) Ia bertanya," Apa hakekat kemanusiaan?"

4.  Ciri-Ciri Filsafat

      + holistik-integral (menyeluruh)

      + inklusif (mencakup secara luas)

      + radikal (mendalam sampai ke akar)

      + spekulatif (terbuka untuk dikritik tidak mau memonopoli kebenaran)

      + sinoptis (melihat secara garis besar, tidak mendetail)

      + perennial (pembahasannya abadi, menembus ruang dan waktu)

      + Reflektif-kritis (pembahasannya sampai ke nilai-nilai)


Refleksi:
Filsafat diartikan sebagai suatu perenungan (kontemplasi) secara mendalam akan suatu hal untuk mencari hakikatnya. Ini dilakukan karena apa yang dikejar dari berfilsafat adalah mencapai suatu kecemerlangan mental.

Agar mampu berfilsafat, kita dituntut agar memiliki sikap inquirying, yaitu senang menyelidiki sesuatu. Hasil perenungan filsafat tidaklah selalu benar. Bahkan kebenaran itu sendiri kemudian akan dipertanyakan oleh filsafat. Apa itu kebenaran? Untuk menjawab pertanyaan ini kemudian akan timbul berbagai aliran cara berpikir dalam filsafat, yang masing-masing menerapkan  standar kebenaran yang berbeda-beda.

Seseorang yang mendalami filsafat disebut sebagai filsuf. Sangatlah menarik untuk  mempelajari cara dan hasil pemikiran para filsuf karena hasil pemikiran mereka satu dan  yang lain adalah sangat berbeda-beda, namun selalu mengandung nilai kebenaran. Hasil pemikiran para filsuf ini juga Perennial karena hingga saat ini masih relevan meskipun telah dinyatakan berabad-abad lalu.

Sebagai contoh, Phytagoras menyatakan bahwa asal segala realitas adalah bilangan. Apabila kita memikirkan dan mencoba membuktikan kebenaran pernyataan ini maka akan kita temui bahwa benar bilangan menjadi kunci segala hal di alam semesta karena segala sesuatu di alam semesta dapat dihitung.

Walau terkesan bahwa filsafat adalah pemikiran hasil perenungan, namun perenungan dalam filsafat bukanlah hanya 'perenungan' semata. Pengetahuan yang cukup, pemikiran yang kompleks, dan tata penilaian yang luas akan segala hal dibutuhkan demi terjadinya suatu perenungan filsafat yang sesungguhnya.

Filsafat juga membutuhkan cara pandang yang terbuka akan kritik dan filsafat tidak pernah memonopoli kebenaran. Kebenaran yang hasil berfilsafat adalah relatif dan selalu berubah-ubah, namun inilah yang mendorong filsafat untuk tidak pernah berhenti berkembang dan membuatnya memikat banyak orang untuk berfilsafat.

Diskusi:
+ Apa itu kebenaran?

+ Apabila kebenaran dalam filsafat itu adalah relatif dan spekulatif,
    maka darimanakahkita dapat menilai apakah sesuatu itu benar?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar